Blogroll

Nelayan Sawah mengucapkan selamat Hari Sumpah Pemuda.

Sample Text

Silahkan tinggalkan komentar Anda, karena setiap kritik dan saran Anda sangat membantu kami para petani untuk menulis blog ini menjadi lebih baik lagi.

email : akunbareng2@gmail.com

Postingan Acak

Lagi Loading, Di mohon Sabar
Didukung oleh: Nelayan Sawah.

Selasa, 17 Januari 2012

Tulisan Pendek: Agama dan Umat Agama

Sebenarnya tidak ada perang  atau konflik “antar-agama” yang ada adalah perang atau konflik “antar-umat agama”. Karena “agama” dan “umat agama” adalah sesuatu yang berbeda. Agama adalah suatu keyakinan yang berisi aturan, dan tentunya aturan-aturan dalam setiap agama tidak ada yang menganjurkan adanya “Perang tanpa dasar alasan yang kuat”. Sedangkan “umat agama” adalah penganutnya, dimana “penganut-penganut” ini tidak semuanya berkata benar. Kadang penganut ini (manusia) memiliki kepentingan, emosi keserakahan, dan ingin berkuasa. Karena keserakahan, kepentingan, dan hasrat ingin berkuasa inilah yang menyebabkan agama seakan "biangnya" konflik.Padahal itu semua karena kebodohan kita sebagai "umat agama".

Oleh: Diki Permana

Jumat, 06 Januari 2012

Ost Pocari Sweet (Heavy Rotation)

Ost Pocari Sweet (Heavy Rotation)

Ini lagu saya cari - cari akhirnya ketemu juga. Lumayanlah buat hilangin galau sejenak. Lyrik lagunya unik & enak didengar. Langsung aja Gan puter lagunya..

Jumat, 07 Oktober 2011

Toleransi Antar-Umat Beragama Sudah Ada Sejak Dahulu

Tentu banyak umat muslim yang mengenal sosok Sunan Kudus. Salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Saya tertarik dengan gaya dakwahnya yang tidak ada unsur paksaan. Beliau juga sangat toleran dengan agama-agama selain Islam. Itu semua terbukti dengan dibangunnya masjid Kudus yang menyerupai pura Hindu. Beliau juga "melarang" masyarakat muslim disana untuk tidak menyembelih/memakan daging sapi. Karena sapi adalah hewan suci bagi umat Hindu. Memang saat itu Hindu adalah agama mayoritas. Dan tradisi itu masih ditaati sampai sekarang, bahkan masyarakat Kudus lebih memilih memakan daging kerbau. Padahal sekarang Islam sudah menjadi agama mayoritas. Tapi itulah toleransi yang hebat tanpa mengenal mayoritas dan minoritas. Berarti toleransi sudah ada sejak lama. Tentunya kita yang hidup dizaman yang bisa dikatakan modern harusnya lebih mengenal apa itu toleransi.

By : Diki Permana Pluralism

Gus Dur : Indonesia Tidak Harus Jadi Negara Islam

Kakek Gus Dur dari ayah (almarhum KH Hasyim Asy’ari) sudah ngotot berpendapat bahwa kita tidak butuh negara Islam untuk menerapkan syariat Islam. Biar masyarakat yang melaksanakan (ajaran Islam), bukan karena diatur oleh negara.

Pernyataan Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi.

Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang.

Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan.

Selain Gus Dur, KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara.









(Diambil dari beberapa wawancara Jaringan Islam Liberal)

Oleh: Diki Permana

Rabu, 24 Agustus 2011

Dari Umar Bin Khatab: Aku memeluk istriku dan kemudian aku menciumnya, padahal aku sedang berpuasa

Dari Umar Bin Khatab: Aku memeluk istriku dan kemudian aku menciumnya, padahal aku sedang berpuasa. Kemudian aku menghadap Rasulullah seraya aku bertanya, "Sungguh aku sudah melakukan suatu perbuatan yang luar biasa, aku mencium istriku padahal aku berpuasa". Rasulullah bertanya kepada Umar, "Bagaimana pendapatmu kalau engkau berkumur dengan air (sedangkan engkau dalam keadaan puasa)." Umar menjawab, "menurut pendapatku itu tidak mengapa (tidak membatalkan puasa)." kalau begitu, kata nabi," teruskanlah puasamu."

(H.R Al-Darimi)

Minggu, 21 Agustus 2011

BerETIKA dan BerMORAL Pada Alam

Dengan alam pun kita harus berETIKA. Dalam menggunakan Sumber Daya Alam, kita harus selalu ingat 3 hal. Ingat disekitar kita, ingat masa sekarang, dan ingat masa yang akan datang. Kita jangan menjadi manusia tamak dan perusak dalam mengeruk kekayaan alam. Kita harus memikirkan 3 hal tersebut. Jangan kita menjadi manusia yang tidak beretika dan tidak bermoral dengan merusak dan tidak memberi kesempatan pada generasi berikutnya, karena generasi berikutnya masih anak cucu kita. Jangan sampai anak cucu kita hanya diwariskan sawah yang tergali seperti jurang, dan gundulnya hutan yang ditebang. Bukankah Tuhan tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan di bumi.

(Ditujukan untuk siapa saja. Baik orang biasa, maupun pejabat Desa, bahkan sampai pejabat Negara)

Oleh: Diki Permana

Selasa, 16 Agustus 2011

17 (Tujuh Belas)

Dulu katanya hari proklamasi jatuh tepat pada bulan Ramadhan. Dan sekarang 17 Agustus 2011 jatuh pada 17 Ramadhan 1432 H. Dimana angka 17 belas ini diyakini komunitas Muslim sebagai tanggal turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) pertama kali. Selain itu konon dipilihnya tanggal 17 Agustus sebagai tanggal proklamasi sengaja dipilih karena difilosofikan dengan 17 Ramadhan.

Dengan hari kemerdekaan Indonesia yang bertepatan dengan hari diturunkannya Al-Qur'an, semoga bisa menjadi semangat tersendiri dan memupuk jiwa nasionalisme, dan kebhinekaan. Semoga ditahun yang ke 66 ini bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dan cerdas dengan banyak membaca, seperti yg dititah dalam ayat pertama kali turun yaitu "Iqra" yang artinya "bacalah".

Selamat hari kemerdekaan Indonesia yang ke 66 dan hari turunnya Al-Qur'anul kareem, 17 Ramadhan 1432 H.

Oleh: Diki Permana