Blogroll

Nelayan Sawah mengucapkan selamat Hari Sumpah Pemuda.

Sample Text

Silahkan tinggalkan komentar Anda, karena setiap kritik dan saran Anda sangat membantu kami para petani untuk menulis blog ini menjadi lebih baik lagi.

email : akunbareng2@gmail.com

Postingan Acak

Lagi Loading, Di mohon Sabar
Didukung oleh: Nelayan Sawah.

Selasa, 24 Januari 2012

Jangan Bakar Bendera Suatu Negara!

Apakah kamu cinta negaramu? Jika kamu cinta negaramu berarti kamu akan hormat pada bendera negaramu, dan kamu tidak akan rela jika bendera negaramu dihina, dengan cara dibakar dan di injak-injak. Sungguh sangat miris melihatnya. Jika dulu ada kasus pengklaiman kebudayaan Indonesia oleh Malaysia, ramai masyarakat berdemo dan juga membakar dan menginjak-injak bendera Malaysia, kasus pembangunan pemukiman yahudi oleh Israel d Palestina. Bendera Israel juga dibakar, kasus karikatur Nabi Muhammad oleh media cetak Denmark, bendera Denmark juga dibakar. Yang paling sering adalah pembakaran bendera Amerika serikat. Menurut saya pembakaran bendera pada suatu demonstrasi sangat tidak etis. Saya sendiri akan sangat marah jika "Merah Putih" dibakar. Bagi saya bendera negara adalah simbol kerhormatan bangsa. Jika memang kebijakan suatu negara luar kita anggap menyimpang janganlah membakar bendera negara tersebut. Kasihan rakyat nya yang tidak terlibat dan mencintai bendera mereka sebagai simbol negaranya.

Oleh: Diki Permana

Minggu, 22 Januari 2012

Demokrasi Jangan Diganggu Gugat

Paham demokrasi memang berasal dari barat. Tapi kalau itu baik tidak salah jika kita mengadopsinya. Tapi yang puritan selalu menjadikan alasan "barat" tersebut, Untuk megubah faham demokrasi dengan faham yang mereka anggap benar. Padahal si puritan bisa berbicara dan berpendapat karena demokrasi. Jadi mereka itu "benci" demokrasi padahal mereka menikmatinya. Itu sangat kontradiksi dengan pernyataan mereka selama ini. Mereka itu seperti kacang yang lupa kulitnya. Indonesia memang negara "beragama" tapi tidak usah menjadi "negara agama".

Jumat, 20 Januari 2012

Kisah Teladan Toleransi Rasulullah saw

Dikisahkan, bahwa pada suatu hari ketika delegasi Kristen Najran mendatangi Rasulullah saw, beliau menerima mereka di masjid. Saat itu Rasulullah saw sedang melaksanakan sholat ashar. Lalu mereka meminta izin kepada Rasulullah saw untuk melakukan kebaktian di masjid. Beliau menjawab, "Biarkan mereka melakukan kebaktian di masjid ini". Mereka pun menunaikan kebaktian sembari menghadap ke arah timur.

(Zuhairi Misrawi, Al-Qur'an Kitab Toleransi, Pustaka Oasis, Jakarta, 2010, hlm. 197)

Selasa, 17 Januari 2012

Tulisan Pendek: Agama dan Umat Agama

Sebenarnya tidak ada perang  atau konflik “antar-agama” yang ada adalah perang atau konflik “antar-umat agama”. Karena “agama” dan “umat agama” adalah sesuatu yang berbeda. Agama adalah suatu keyakinan yang berisi aturan, dan tentunya aturan-aturan dalam setiap agama tidak ada yang menganjurkan adanya “Perang tanpa dasar alasan yang kuat”. Sedangkan “umat agama” adalah penganutnya, dimana “penganut-penganut” ini tidak semuanya berkata benar. Kadang penganut ini (manusia) memiliki kepentingan, emosi keserakahan, dan ingin berkuasa. Karena keserakahan, kepentingan, dan hasrat ingin berkuasa inilah yang menyebabkan agama seakan "biangnya" konflik.Padahal itu semua karena kebodohan kita sebagai "umat agama".

Oleh: Diki Permana

Jumat, 06 Januari 2012

Ost Pocari Sweet (Heavy Rotation)

Ost Pocari Sweet (Heavy Rotation)

Ini lagu saya cari - cari akhirnya ketemu juga. Lumayanlah buat hilangin galau sejenak. Lyrik lagunya unik & enak didengar. Langsung aja Gan puter lagunya..

Jumat, 07 Oktober 2011

Toleransi Antar-Umat Beragama Sudah Ada Sejak Dahulu

Tentu banyak umat muslim yang mengenal sosok Sunan Kudus. Salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Saya tertarik dengan gaya dakwahnya yang tidak ada unsur paksaan. Beliau juga sangat toleran dengan agama-agama selain Islam. Itu semua terbukti dengan dibangunnya masjid Kudus yang menyerupai pura Hindu. Beliau juga "melarang" masyarakat muslim disana untuk tidak menyembelih/memakan daging sapi. Karena sapi adalah hewan suci bagi umat Hindu. Memang saat itu Hindu adalah agama mayoritas. Dan tradisi itu masih ditaati sampai sekarang, bahkan masyarakat Kudus lebih memilih memakan daging kerbau. Padahal sekarang Islam sudah menjadi agama mayoritas. Tapi itulah toleransi yang hebat tanpa mengenal mayoritas dan minoritas. Berarti toleransi sudah ada sejak lama. Tentunya kita yang hidup dizaman yang bisa dikatakan modern harusnya lebih mengenal apa itu toleransi.

By : Diki Permana Pluralism

Gus Dur : Indonesia Tidak Harus Jadi Negara Islam

Kakek Gus Dur dari ayah (almarhum KH Hasyim Asy’ari) sudah ngotot berpendapat bahwa kita tidak butuh negara Islam untuk menerapkan syariat Islam. Biar masyarakat yang melaksanakan (ajaran Islam), bukan karena diatur oleh negara.

Pernyataan Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi.

Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang.

Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan.

Selain Gus Dur, KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara.









(Diambil dari beberapa wawancara Jaringan Islam Liberal)

Oleh: Diki Permana