Blogroll

Nelayan Sawah mengucapkan selamat Hari Sumpah Pemuda.

Sample Text

Silahkan tinggalkan komentar Anda, karena setiap kritik dan saran Anda sangat membantu kami para petani untuk menulis blog ini menjadi lebih baik lagi.

email : akunbareng2@gmail.com

Postingan Acak

Lagi Loading, Di mohon Sabar
Didukung oleh: Nelayan Sawah.

Jumat, 06 Mei 2011

Futuristic Love

Ketika kau tak dapat lagi merasakan panasnya api
Ketika tak ada lagi yang dapat membuatmu takut
Ketika semuanya terasa begitu indah
Ketika semua rasa kesedihan telah menghilang
Ketika itu semua rasa melebur menjadi suatu kenikmatan
Itulah cinta

Tak peduli apakah itu wajar
Tak peduli siapa yang kau cintai
Apakah itu salah atau tidak
Itulah karunia cinta

Engkau begitu hangat, namun engkau pun mematikan
Engkau adalah ciptaan yang sempurna, namun engkau pun dusta
Engkau adalah sesuatu yang amat sempurna dimata ku

Cium aku, peluk aku, cumbu diriku dalam cintamu
Racuni aku dalam cintamu
Bawalah diriku bersamamu
Aku siap untuk dirimu

Walaupun bumi ini telah musnah beserta semua yang ada didalamnya
walaupun engkau tak lagi seindah dulu
walaupun kau dari dimensi yang berbeda
aku akan selalu sayang pada dirimu
walaupun yang lain tak mengerti akan dirimu
aku akan tetap menyayangimu
setiap rasa yang aku rasakan ini seperti magic

ketika aku melihatmu, bumi ini bagaikan berhenti berputar pada porosnya
walaupun tak ada lagi gravitasi didalamnya, aku terus menatap kedua bola matamu
hanya dirimu yang ada dihati dan pikiranku
rasa ini sungguh magic
nikmat namun mematikan
inilah cinta

maknanya bisa anda tebak sendiri, karena saya yakin tiap orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda

Kamis, 05 Mei 2011


Wowwww…  apa kalian pernah liat foto yang aneh2, keren, serem, lucu, dll. Mungkin   sering anda liat di internet, cover majalah, poster  dll. Bagaimana bisa foto itu di buat..?
Hemmm.. di jaman sekarang hal tersebut adalah hal yang biasa. Lalu bagaimana caranya…? Itu mudah saja.
Digital Imaging atau yang biasa kita dengar dengan  Manipulasi foto adalah Proses pengolahan Citra (gambar) digital yang dilakukan secara computerized (menggunakan komputer).Dengaan kata lain foto yang diolah menggunakan computer. Dengan aplikasi2 seperti: adobe photoshop, Adobe illustrator (AI), corel draw, photo scap dll.
Untuk melakukan  digital imaging haruslah mempunyai basic dasar, seperti:
      Menguasai aplikasi (gak usah professional, yg penting tau dasarnya)
      Mahir Menggambar  (punya konsep)
      Hobi Fotografi ( gak terlalu penting sih)
      Memiliki Sense of Art
      Memahami Konsep Resolusi (dpi)
      Mempunyai banyak koleksi gambar atau image2
      Ini yang paling penting “Tidak Buta Warna” hahaha … juga tidak “gila” pastinya

Gg usah lama2.. kita langsung liat za contoh2 dari hasil manipulasi foto dengan mengunakan aplikasi photoshop … ok gan



sumber : http://1.bp.blogspot.com



 sumber : buatan sendiri









 sumber : buatan sendiri




sumber:  http://4.bp.blogspot.com



 sumber : buatan sendiri
  

 sumber : buatan sendiri
itu sedikit dari beberapa image/ gambar-gambar hasil dari manipulsi photo, yang mungkin sering anda liat di internet atau dimanapun.  mau tau cara membuatnya..? tongkrongin terus blog nelayansawah
nanti juga ada tutorialnya.. ok gan

Rabu, 04 Mei 2011

Nanti & Sekarang

Nanti itu adalah besok
Nanti itu adalah minggu depan
Nanti itu adalah bulan depan

Nanti kita akan bertemu disini dan
Nanti juga kita akan berpisah disini
entah itu nanti, besok, minggu depan, atau bulan depan

Sekarang itu adalah hari ini
Sekarang itu adalah saat ini
Sekarang itu adalah detik ini

Sekarang kita bersama dan
Sekarang juga kita akan menyatu
entah itu hari ini, saat ini, atau detik ini

Selasa, 03 Mei 2011

Kenangan Bersamanya


Saat dirinya hadir mengisi hatiku
dirinya selalu menghiasi pikiranku
Sejauh apapun dirinya, wajahnya selalu melekat dipikiranku menembus batas ruang dan waktu
Hari bersamanya selalu menjadi kenangan disetiap perjalanan hidupku,
walaupun hati ini dia  hancurkan, aku akan merajutnya kembali dengan kenangan indah besamanya,
aku memang rapuh di atas namanya, tapi aku kuat diatas cintaku terhadapnya,
aku melihat  “Tuhan” di dalam dirinya.
aku bisa melepas hubungan dengan manusia, tapi aku tidak bisa melepas hubungan dengan “tuhan” .

Puisi ini w buat u/perempuan istimewa yang banyak meninggalkan kenangan2  indah….. Dari kata2 dan bait2nya w rangkai dengan apa adanya tampa kebohongan… semoga dirinya mengerti bahwa bagiku, di dalam dirinya terdapat “tuhan”. 

Minggu, 01 Mei 2011

Derita w di hari jum'at

Kisah sedih w… berawal dari dari jum’at pagi kemarin.. seperti biasa w bangun jem 5;30, truz langsung slat dahh, abiz tu w beres2 rumah sambil jagain warung, jem 6;30 w disuruh yokap nganterin ade skul, sebenernya ci w ogah banget tuhh, tapi mo gimana lagi, Cuma w yang bisa nganterin tuh ade.
Kisah w berlanjut, jem 1;30 w ngantuk banget, maklum abis ton bola gtu dah. Haha, eh w malah disuruh jagain warung…!! Rese banget.. yokap w bilang dia mu ngaji, jadi w disuruh jagain warung.. karna mata+kepala berat banget.. w tidur aja… bodo dah yokap mo marah juga.. yang penting w tidur end mimpi indah.. ckckc..
Minkin w kualat x ya…! Saat w tertidur pulas dan mimpi asyik.. tiba2 ujan deras.. buset gede banget tuh ujan.. kamar w yang tdinya bocor Cuma dikit, tiba2 amblas tuh talangnya, kamar w pun banjir total, keadaan tersebut diperparah dengan kerendemnya laptop w.. w sedih bget… sudah gg diragukan lagi.. laptop w rusak parah… sediiihhhhhh… w kbingungan ksono- ksini, sahabat w yang paling mengerti w(laptop),, sakit parah,, en w gag puna uang bwat ngobatinnya, maklum belum panen bayam, sowri ya zizi (laptop), sampai sekarang zizi masih terpuruk kaku di kamar,, sedih ngliatnya…
Adakah yang mampu mengobati zizi qu..? tampa dia tugas2 w gg mungkin bisa selesai.. zizi banyak berjasa dalam karir perkulihan w,, mungkin ini kualat dari melawannya w kpd yokap.. tapi kenapa zizi yang jadi korbannya… meskipun dia hanya benda elektronik, tapi bagi w dia lebih beharga dari apapun, sahabat paling mengerti hidup w..

My momm.. I’m sorry…..
My zizi , please back life for me..

perdana

Huuhh… akhirnya bisa nulis juga ne di blog Nelayan Sawah. Cuma w yang paling telat nulis di blog ini… gara2 byak kegiatan ma tugas2 di kampuss.. Cape rasanya.. tapi seru abiss . wahahaha.. “loh ko jd twa sendiri ne w” ckckc. Gpp deh. Ungkapan eksprisi seneng setelah keluar dari tugas2 UTS.. heeemmm meski masih byak tugas yg lainnya.. tp bodolah. Kaga guna…….!!!
Bertemen sma orang2 yang kontras memang agak sulit.. tapi dari situlah kami menjadi beda sma orang2 lain (gila pd bgt). Tp w heran dah.. tmen2 w pada cuek ma cwe (gg normal x ya),, ada yg jauh2 dari Bengkulu tp gg pd sma cwe(itu c zenius),, ada yang deket bgt ma cwe2 di kampus, smpe2 siapa z knal dy, eh dianya aneh, gg puna sahwat ma cwe, (somad bgt dah)hehehe… trus ada yang cuek-cuek sama cwe tapi hanya memperhatikan 1 cwe di kampus,, cma cwe itu doank yg dy knal..(gg laen ya si agung)En terakhir yg otaknya rada2 pinter, tapi gg pernah ngomongin soal cwe..(ya si diki).. klo w sndiri sudah teruji kenormalannya terhadap cwe.. wuahahahaha…
Udah ahh cpe ngomongin tmen2 w,, gg guna………!!!!! Ckckckc

Dongeng Papa Petani (chapter 1)

Setelah beberapa hari yg lalu gw nulis tentang prolog (permulaan) dari cerita ini, akhirnya sekarang gw bisa juga posting chapter pertamanya. Buat para pembaca blog nelayansawah yang mau baca cerita ini tapi belum sempet liat prolognya, supaya gak bingung dengan jalan ceritanya ada baiknya kalo liat dulu prolognya yang 'agak ngaco' itu disini.

Cerita ini sebenarnya gw buat karena terinspirasi dari cerita "Dongeng Ayah Monster"nya si Somad. Jadi buat yang penasaran sama cerita yang dibikin si Somad silahkan menuju ke TKP-nya di mari. Terima kasih....


***

Sore itu seperti biasa, kedamaian amat terasa di Negeri Nyonyong. Mentari senja bersinar di balik bukit, cahayanya redup seiring munculnya malam. Nyiur melambai ditiup angin sore yang sejuk, burung-burung saling berkicau bersahutan dari puncak-puncak pepohonan. Dan terdengar cengkrama para petani berjalan pulang bersama setelah penat seharian di ladang. Di atap sebuah rumah, seorang gadis kecil duduk santai sambil menikmati indahnya pemandangan itu. Terlihat sesekali ia menyibakkan rambutnya yang hitam panjang kebelakang. Sambil memeluk kedua kakinya, ia mendongak keatas, melihat segerombolan burung yang hendak kembali ke sarang.
Azmin, begitulah orang tuanya memberikan nama. Putri seorang tuan tanah yang baik hati bernama Mbah Arun. Meskipun berasal dari kalangan atas, Azmin tidak pernah membeda-bedakan temannya. Seluruh penduduk desa mengenalnya sebagai gadis kecil yang ramah, cantik dan mudah bergaul. Semua anak-anak di desa memanggilnya dengan sebutan “si jago main.” Agak tomboy dan tidak segan-segan berkelahi dengan anak lelaki jika ada yang mengganggunya. Meski telah dilarang oleh ibunya untuk tidak berkelahi, namun Azmin tidak pernah menggubrisnya dan hampir setiap hari ia pulang dengan pakaian kotor dan luka lecet di tubuhnya.
“Min! azmin!” panggil seorang anak dari bawah. Azmin melongok sumber suara, terlihat seorang anak berlari keluar rumah.
“Aja apa Jang?” Tanya dia kepada anak itu.
“Hari udah sesore ini, kamu gak pulang?”
Azmin kaget, tanpa terasa matahari telah terbenam. Ia teringat pesan ibunya agar hari ini tidak main sampai sore. Gadis kecil itu pun segera turun lewat atap kereta kuda yang ‘diparkir’ didekat situ.
“Hehe, maaf… aku keasyikan diatas sana. Gak kerasa lupa pulang.”
“Udah gelap begini, kamu mau diantar bapakku gak?”
“Ah, enggak usah, aku bisa pulang sendiri koq.”
Tanpa buang-buang waktu ia segera berlari dengan cepat menuju rumahnya meninggalkan anak itu.
“Dah, Ujang…!!” pamit Azmin sambil berlari.
Anak itu diam melongo dan hanya mengangkat tangan tanpa melambaikannya.
Akhir-akhir ini Azmin mulai tidak nyaman berada di rumahnya sendiri. Semenjak Abud, adik kecilnya yang baru berusia beberapa bulan itu dinobatkan oleh dukun yang paling terkenal di Negeri Nyonyong sebagai calon juru selamat, rumahnya jadi seperti penjara. Disetiap sudut rumah dijaga oleh prajurit kerajaan dan setiap orang yang masuk selain keluarga Mbah Arun harus melalui pemeriksaan ketat. Itulah sebabnya ia lebih suka menghabiskan waktu diluar rumah dan bersantai dirumah teman-temannya termasuk rumah si Ujang tadi.
Setelah beberapa menit, Azmin sampai di depan halaman rumahnya. Terlihat beberapa orang prajurit berdiri tegak di samping pintu gerbang. Mereka pun segera membuka pintu setelah mengetahui gadis itu pulang ke rumah. Azmin berhenti sejenak sambil menghela nafas.
“Haduh… kenapa pulang sesore ini?” Tanya seorang prajurit kepadanya. “Bukannya kamu disuruh ibumu untuk jangan pulang sore-sore?”
“Hufft… iya maaf, tadi Azmin keasyikan sampai lupa pulang pak! Hehe..” Jawabnya sambil cengengesan.
“Ha? Neng Azmin udah pulang?” seru seorang mbok pelayan sambil berlari menghampirinya. Ia memeriksa wajah dan lengan anak itu dengan penuh cemas. “Neng Azmin hari ini gak berkelahi lagi kan?”
Azmin menggeleng sambil tersenyum. Sang pelayan itu pun bernafas lega.
“Hah! Ayo cepat neng Azmin, neng harus segera mandi dan ganti pakaian. Sebentar lagi ada yang mau datang.” Seru Pelayan itu sambil menarik tangan Azmin menuju ke rumah.
“Aduh, pelan-pelan mbok…!” pinta Azmin yang kesulitan mengimbangi larinya si mbok. “Pak prajurit! Udah dulu ya, Saya mau masuk!”
“Iya neng!” seru para prajurit itu.
Mereka pun kemudian berlari melewati jalan setapak dengan pepohonan rindang berdiri disekelilingnya. Dari kejauhan terlihat atap sebuah rumah yang cukup besar dengan cahaya lampu yang bersinar terang dari dalamnya, itulah rumah kediaman keluarga Mbah Arun. Di depan teras rumahnya terdapat sebuah pintu masuk yang sangat besar dan setinggi hampir tiga meter lengkap dengan sepasang patung selamat datang berbentuk bagong dari logam tembaga di sisi kanan dan kirinya. Di sekitarnya terdapat dinding dengan ukiran-ukiran yang indah dan tiang-tiang penyangga dari kayu jati yang tinggi menjulang,  terlihat pula beberapa orang penjaga yang segera membukakan pintu begitu melihat Azmin dan  si mbok yang muncul dengan terburu-buru.
“druuuup..!!” terdengar suara nyaring dari pintu masuk yang tengah di buka oleh beberapa orang, seketika itu juga cahaya terang bersinar dari baliknya. Sesampainya mereka di dalam, terdapat sebuah ruangan yang cukup besar dengan tirai-tirai merah menutupi dinding dan lantai berlapis batu marmer berwarna abu-abu. Diatas langit-langitnya, tergantung indah hiasan-hiasan lampu dari Kristal yang bersinar terang. Tepat di tengah ruangan tersebut, diletakkan sebuah lingkaran air mancur indah yang berbentuk seorang dewi dengan air mengucur dari kedua tangannya yang tengah mengangkat keatas. Di sekelilingnya disusun pula sofa-sofa yang empuk dengan ukiran-ukiran indah di setiap sisinya. Terdapat pula pelayan-pelayan berpakaian rapih yang sesekali menyapa Azmin, kelihatannya mereka tengah sibuk hendak mempersiapkan sesuatu.
“Sebenarya ada apa sih, mbok?” Tanya Azmin penasaran melihat para pelayan yang berlalu lalang.
“Udah, pokoknya neng harus bersih-bersih dulu, nanti juga neng Azmin tau,” jawab si mbok yang makin mempercepat langkahnya saat menaiki tangga menuju kamar Azmin di lantai dua. “Dari tadi Gusti Kanjeng udah khawatir karena Neng Azmin gak pulang-pulang. Sebentar lagi aja Neng gak pulang, pasti para prajurit disuruh nyariin si Neng.” Jelas si mbok.
Mendengar penjelasan si mbok, Azmin pun tersenyum kecil sambil menggigit lidahnya, “hihi.. maaf.”
Kemudian mereka pun masuk ke sebuah kamar yang cukup luas dengan hiasan yang serba merah muda. di sisinya terdapat sebuah kamar mandi mungil dengan bak tempat berendam yang telah diisi air hangat. Beberapa orang gadis muda pun terlihat sibuk tengah merapihkan gaun kecil yang nantinya akan dipakai oleh Azmin.
Di luar rumah, terdengar suara serombongan kereta kuda yang semakin lama semakin mendekat. Para prajurit penjaga pintu pun segera bersiap menyambut tamu yang telah dinantikan tersebut. Dari balik jalan setapak yang tadi dilewati Azmin dan si mbok, muncullah kereta-kereta kuda berwarna merah tua yang dengan sigap berhenti tepat di depan pintu masuk. Dari salah satu kereta kuda yang terletak di tengah-tengah rombongan, turunlah seorang pria paruh baya berpakaian ala bangsawan menggandeng seorang wanita dengan gaun biru yang cantik. kemudian dibelakangnya ikut turun seorang bocah tambun dengan ingus yang keluar dari hidungnya. Lalu Mbah Arun sang mpunya rumah beserta istrinya yang tengah menggendong Abud berjalan keluar dan segera manyambut dengan akrab tamu tersebut.
Tidak lama kemudian, keluarlah Azmin dari kamarnya dengan berpakaian gaun putih dengan rumbai yang dihiasi bunga-bunga. Sejenak, gadis kecil itu menjadi pusat perhatian para pelayan dan prajurit yang kebetulan melihatnya. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia melangkah dengan perlahan. Wajah imutnya yang memerah karena malu membuat gadis itu semakin terlihat manis. Ditambah lagi dengan hiasan bunga mawar yang diikat di rambutnya yang hitam panjang dan dibiarkan terurai, serta wangi semerbak yang langsung tercium ketika ia berjalan di dekat mereka semakin menambah keanggunan dan kecantikannya.
“Hahaha… iya, jadi dulu Saya dan Mister Frederick ini teman kuliah..” terdengar suara keras sang ayah dari kejauhan. Azmin menelan ludahnya dan berjalan dengan gugup menuju sumber suara tersebut diiringi pelayan-pelayan yang lain. Jantungnya berdegup kencang karena merasakan firasat yang tidak enak. Dari balik tirai yang menutupi sebagian pintu masuk, ia melihat sesosok anak gendut dengan rambut klimis belah tengah yang sedang duduk manis mendengar pembicaraan orang tuanya. hidungnya tak henti-henti menghisap ingus yang terus mengalir keluar.
Anak jorok, gumam Azmin sambil kakinya melangkah mundur. Namun si mbok yang berdiri di belakang segera memegang pundaknya dan mendorongnya ke depan.
“Mbok..!” seru Azmin setengah berbisik. Tanpa sadar, si Mbok mendorongnya hingga masuk ke ruangan. Mbah Arun yang melihat Azmin langsung memperkenalkan putrinya itu.
“Nah, perkenalkan.. inilah putri Saya, Azmin,”
Seketika, seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya, dilihatnya seorang pria dan wanita bule dengan pakaian ala bangsawan segera bangkit dari kursinya seketika melihat penampilan Azmin yang memukau. Sang ibu pun sangat terkejut melihat putri kecilnya yang malam itu berpenampilan begitu cantik. Bahkan para pelayan dan penjaga tak dapat menahan rasa kagumnya saat melihat pesona Azmin yang begitu berbeda dengan yang biasanya.
“Wow, beautiful…” ucap sang pria bangsawan. “It’s… wonderfull…” sambung sang istri bangsawan.
Kemudian Mbah Arun mengayunkan kelingkingnya kepada Azmin seakan mengisyaratkan sesuatu. Melihat hal itu, Azmin langsung tersadar akan sesuatu, kemudian ia pun segera menundukkan badan dan mengangkat sedikit gaun yang dikenakannya.
“Thank you…” ucapnya dengan manis.
Azmin menoleh kearah anak ingusan tadi, anak itu pun balas menoleh, kemudian tersenyum dengan lebar padanya. Dalam hatinya, Azmin terus bertanya-tanya, acara apakah yang tengah berlangsung itu? Namun sesaat ia teringat tentang omongan kedua orang tuanya untuk menjodohkannya dengan putra seorang bangsawan dari Negeri jauh yang dahulunya adalah sahabat sang Ayah.
Astaga! Ini adalah acara perjodohan!? gumam Azmin dalam hati.


Bersambung…